Tuesday, January 27, 2015
Bukan dia.
pagi itu, bukan bulan kedua bukan pula bulan kedua belas. karena aku tak ingat bulan ke berapa. sudah 3 tahun baru kita lewati bersama tanpa halangan berarti. tapi pagi itu, bagai petir disiang bolong, seseorang yg tak pernah kuduga datang dari masa laluku. sungguh, demi tuhan aku tak pernah mengharapkan kehadirannya. tapi kemudian, bodohnya, aku membuka hati menerimanya, tanpa kupedulikan perasaanmu. seandainya kutau akhirnya aku menyesal, maka takkan kulakukan hal itu. dia mendekati orangtuaku, hal yg belum kamu lakukan dengan sungguh-sungguh. dia begitu pandai memikat hati mereka, dia begitu pandai mencari muka didepan teman-temanku dan tentu saja sangat pandai membuaiku. dia sangat mengerti, aku lemah dengan pujian, aku lemah dengan janji-janji. hampir setiap hari. dia menjejaliku dengan perhatian-perhatian kecil yg jarang kamu berikan. pahamilah, aku mudah terbuai. sungguh. kusembunyikan satu demi satu bukti kedekatanku dengannya, kusembunyikan satu demi satu kebohonganku. hampir 2 bulan berlalu kutata rapi kebohonganku tapi kemudian entah sinyal macam apa yg memberitahumu sehingga bisa membongkar pertahananku. kebohonganku dibobol sudah. aku kalah. kamu mengetahuinya. kamu menangis. aku sungguh tidak tega. kamu bahkan sempat pasrah, "kalo kamu bahagia sama dia sekarang nikmatilah, nanti kalo kamu bosan sama dia, aku masih disini seperti biasa menunggumu,sayang.". aku bimbang saat itu, memilih bersama orang baru yg memberiku kebahagiaan yg entah semu entah bukan, yg selalu menghujaniku dengan buaian, yg memberiku janji-janji manis atau orang lama yg telah mengetahui sisi burukku tapi tetap berdiri tegak disampingku. aku bimbang. kamu berkata, kamu memang belum bisa membawaku pergi jauh-jauh, kamu juga belum bisa memanjakanku dengan segala materi. kamu bilang, kamu bukan dia yg bisa membawaku kemanapun dengan materi orangtua. kamu adalah kamu yg selalu berusaha keras untuk menyenangkanku dengan usahamu sendiri. aku terenyuh, aku menulis ini ditemani air mataku, aku ingat usahamu begitu kuat, aku tau kamu berusaha sangat keras untuk membuatku bahagia. tapi aku malah terbuai dengan pria lain. aku bahkan sedang bersenang-senang dengan pria lain saat kamu memeras keringat mengumpulkan rupiah untuk tabungan kita. tercekat tenggorokanku. aku mantap memilihmu.terimakasih sudah menerimaku kembali. semoga tuhan memberi kesempatan kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. aku dan kamu, bukan dia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment